AC Milan – membuka perjalanan di Serie A musim 2026/2027 dengan hasil positif. Rossoneri berhasil membawa pulang tiga poin setelah mengalahkan Torino dengan skor 2-1 di Stadion Olimpico Grande Torino, Senin (24/8/2026) dini hari WIB.
Kemenangan tersebut menjadi awal yang menjanjikan bagi Milan dalam mengarungi kompetisi domestik musim ini. Dua gol tim tamu hadir dalam waktu berdekatan pada awal paruh kedua. Alphadjo Cisse dan Adrien Rabiot mencatatkan nama mereka di papan skor dengan selisih waktu hanya tiga menit.
Meski hasil akhir menjadi perhatian, penampilan Milan juga menghadirkan cerita menarik lainnya. Tim asuhan Ruben Amorim mulai menunjukkan identitas permainan berbeda dibandingkan pendekatan Rossoneri pada musim sebelumnya.
La Gazzetta dello Sport menyoroti perubahan tersebut. Milan dinilai tampil dengan keberanian lebih besar dalam mengambil inisiatif permainan. Mereka berusaha menekan lawan dan aktif menciptakan ruang untuk membangun peluang.
Perubahan pendekatan itu memberikan gambaran awal mengenai rencana Amorim bersama Milan. Walaupun beberapa kekurangan masih muncul selama pertandingan, Rossoneri memperlihatkan perkembangan yang menjanjikan untuk menghadapi persaingan panjang di Serie A.
AC Milan Lebih Aktif Menciptakan Peluang
Milan sebelumnya dikenal lebih mengandalkan permainan yang mengutamakan kesabaran. Ketika masih berada di bawah arahan Massimiliano Allegri, Rossoneri kerap menunggu kesempatan sebelum melancarkan serangan ke pertahanan lawan.
Tim tidak selalu memaksakan tempo tinggi sejak awal. Milan lebih sering membaca pergerakan lawan sebelum mencari celah yang dapat dimanfaatkan untuk membangun serangan berbahaya.
Ruben Amorim membawa pendekatan berbeda. Perubahan tersebut sudah terlihat ketika Milan menghadapi Torino pada pertandingan pembuka Serie A musim ini.
Rossoneri berusaha mengambil inisiatif sejak pertandingan berjalan. Para pemain tidak hanya mengandalkan kesalahan Torino untuk mendapatkan peluang. Milan mencoba membangun situasi serangan melalui penguasaan bola, pergerakan antarlini, dan tekanan terhadap pertahanan tuan rumah.
Menariknya, kedua kesebelasan mengawali pertandingan dengan skema dasar yang sama. Milan dan Torino sama-sama menggunakan formasi 3-4-2-1.
Torino pada awalnya berusaha meladeni permainan terbuka Rossoneri. Tekanan Milan kemudian membuat tuan rumah mengubah pendekatan. Torino lebih banyak menempatkan pemain di area pertahanan dengan membentuk pola 5-4-1.
Situasi tersebut membuat Milan semakin leluasa menguasai jalannya pertandingan. Rossoneri terus berusaha mencari ruang untuk menembus pertahanan rapat yang dibangun Torino.
Samuel Chukwueze Jadi Ancaman dari Sisi Kanan
Samuel Chukwueze memberikan kontribusi penting dalam permainan menyerang Milan. Pergerakannya dari sektor kanan beberapa kali menyulitkan barisan pertahanan Torino.
Kecepatan dan keberanian Chukwueze dalam melakukan penetrasi membuat Milan memiliki alternatif serangan. Torino harus memberikan perhatian ekstra terhadap area tersebut sepanjang babak pertama.
Walaupun mampu mengendalikan permainan, Milan belum cukup efektif dalam mengubah peluang menjadi gol sebelum turun minum. Rossoneri membutuhkan peningkatan dalam penyelesaian akhir untuk memaksimalkan dominasi mereka.
Goncalo Ramos juga memperlihatkan peran yang cukup menarik. Penyerang tersebut beberapa kali meninggalkan posisi terdepan untuk turun dan terlibat dalam proses pembangunan serangan.
Pergerakan itu membuat Ramos terkadang terlihat seperti gelandang serang. Kemampuannya membantu mengalirkan bola memang sesuai dengan karakter permainan yang telah ia kembangkan selama memperkuat Paris Saint-Germain.
Namun, Milan tetap membutuhkan ketajaman Ramos di kotak penalti. Terlebih, sang pemain datang dengan status sebagai pemain termahal dalam sejarah klub. Ekspektasi terhadap kontribusi golnya tentu sangat besar.

Para pemain AC Milan merayakan gol Adrien Rabiot dalam laga Serie A antara Torino vs Milan di Turin, Italia, Minggu, 23 Agustus 2026
Dua Gol Cepat Membawa Milan Memimpin
Upaya Milan akhirnya membuahkan hasil selepas jeda. Rossoneri mampu mencetak dua gol dalam rentang waktu hanya tiga menit pada awal babak kedua.
Alphadjo Cisse menjadi salah satu pemain yang sukses menjebol gawang Torino. Tidak lama kemudian, Adrien Rabiot turut mencatatkan namanya di papan skor dan membawa Milan unggul 2-0.
Dua gol cepat tersebut menunjukkan kemampuan Milan memanfaatkan momentum pertandingan. Tekanan yang sebelumnya mereka bangun akhirnya menghasilkan keunggulan penting.
Akan tetapi, permainan Rossoneri mulai mengalami perubahan setelah unggul dua gol. Milan menurunkan intensitas dan memilih bertahan lebih dalam.
Keputusan tersebut membuka kesempatan bagi Torino untuk mengambil alih momentum. Tuan rumah mulai meningkatkan tekanan dan memaksa pemain Milan bekerja lebih keras di wilayah pertahanan sendiri.
Ruben Amorim Masih Memiliki Pekerjaan Rumah
Periode sekitar 20 menit terakhir menjadi salah satu catatan penting bagi Ruben Amorim. Milan kesulitan mempertahankan pendekatan agresif yang mereka tunjukkan sebelumnya.
Torino berhasil memperkecil ketertinggalan dan mendapatkan sejumlah kesempatan untuk mengejar skor. Ancaman tuan rumah bahkan sempat membuat Milan berada dalam tekanan karena keunggulan mereka belum sepenuhnya aman.
Beruntung bagi Rossoneri, Torino gagal mencetak gol tambahan. Milan akhirnya mempertahankan keunggulan 2-1 sampai wasit meniup peluit panjang.
Amorim mengakui bahwa kondisi fisik pemain menjadi salah satu faktor yang memengaruhi performa tim pada penghujung pertandingan. Dalam konferensi pers selepas laga, ia menjelaskan bahwa kebugaran skuad Milan belum mencapai kondisi maksimal.
Situasi tersebut membuat Rossoneri belum mampu menjaga konsistensi permainan sepanjang pertandingan. Aspek kebugaran tentu menjadi pekerjaan yang perlu segera diperbaiki mengingat perjalanan Serie A masih sangat panjang.
Meski demikian, kemenangan atas Torino memberikan sinyal positif bagi Milan. Amorim mulai memperkenalkan permainan yang lebih aktif, agresif, dan berani mengambil inisiatif.
Rossoneri kini tidak hanya menunggu lawan melakukan kesalahan. Mereka mencoba menciptakan sendiri ruang serta momentum untuk menyerang. Jika mampu mempertahankan pendekatan tersebut sambil meningkatkan kebugaran dan efektivitas di depan gawang, Milan memiliki fondasi yang cukup menjanjikan untuk bersaing sepanjang Serie A 2026/2027.