Reformasi FIFA menjadi tuntutan yang disuarakan Emmanuel Petit bersama sejumlah mantan pesepak bola setelah mereka menilai tata kelola organisasi sepak bola dunia membutuhkan perubahan mendasar. Legenda tim nasional Prancis tersebut menyoroti sistem kepemimpinan FIFA di bawah Gianni Infantino dan meminta pembenahan yang tidak hanya berfokus pada pergantian sosok presiden.
Petit, yang pernah memperkuat Arsenal dan Chelsea, ikut mendukung sebuah petisi yang menyerukan perubahan dalam struktur kekuasaan FIFA. Beberapa nama lain dari dunia sepak bola juga bergabung dalam gerakan tersebut, termasuk Mikael Silvestre, Olivier Dacourt, serta pesepak bola wanita Lucy Bronze.
Para pendukung petisi menaruh perhatian pada besarnya kekuasaan yang terkonsentrasi di tingkat elite organisasi. Mereka menilai kondisi tersebut perlu mendapat perhatian serius karena tata kelola FIFA memiliki pengaruh besar terhadap arah sepak bola internasional.
Emmanuel Petit Ungkap Awal Keterlibatannya
Petit menjelaskan latar belakang keterlibatannya ketika berbicara dalam program radio Prancis Rothen s’enflamme di RMC. Menurut mantan gelandang tersebut, Mikael Silvestre lebih dahulu menghubunginya untuk meminta dukungan terhadap gerakan yang melibatkan sejumlah mantan pemain.
Silvestre mengirim pesan kepada Petit beberapa hari sebelumnya dan menanyakan kesediaannya untuk mencantumkan nama dalam daftar mantan pesepak bola yang mendukung tuntutan tersebut. Petit kemudian menerima ajakan itu dan ikut menyuarakan perlunya perubahan dalam organisasi.
Sejumlah kontroversi yang terjadi di Amerika Serikat turut mendorong munculnya gerakan tersebut. Petit secara khusus menyinggung berbagai peristiwa selama turnamen di negara itu, termasuk interaksi Gianni Infantino dengan Donald Trump.
Situasi tersebut kemudian mendorong beberapa tokoh sepak bola untuk menyampaikan kekhawatiran mereka secara terbuka. Alih-alih hanya membicarakan persoalan tersebut secara internal, mereka memilih menggunakan petisi sebagai sarana untuk menarik perhatian publik terhadap tata kelola FIFA.
Petit Tidak Mengharapkan Perubahan Secara Instan
Meski mendukung gerakan reformasi FIFA, Petit memahami bahwa petisi tersebut tidak akan langsung mengubah struktur organisasi. Ia melihat sistem kekuasaan FIFA sudah terbentuk begitu kuat sehingga sebuah surat terbuka tidak mungkin menghasilkan perubahan besar dalam waktu singkat.
Karena itu, Petit memandang gerakan tersebut lebih sebagai upaya meningkatkan kesadaran masyarakat sepak bola. Menurutnya, publik perlu mengetahui persoalan yang muncul dalam pengelolaan organisasi tertinggi sepak bola dunia.
Petit bahkan mengakui bahwa tuntutan melalui petisi mungkin tidak menghasilkan dampak instan. Namun, ia tetap menganggap langkah tersebut penting karena dapat membuka diskusi yang lebih luas mengenai cara FIFA menjalankan organisasi dan menentukan kebijakan.
Ia juga memperjelas sasaran kritiknya. Petit tidak menyalahkan seluruh pegawai yang bekerja di lingkungan FIFA. Sebaliknya, ia mengarahkan kritik kepada kelompok yang memiliki kewenangan tertinggi dalam mengambil keputusan dan menentukan arah organisasi.

Legenda sepak bola Prancis, Emmanuel Petit.
Reformasi FIFA Tidak Cukup dengan Mengganti Presiden
Petit menilai pergantian Gianni Infantino dengan figur lain belum tentu menyelesaikan persoalan tata kelola FIFA. Menurutnya, siapa pun yang menduduki jabatan presiden akan menghadapi persoalan serupa apabila organisasi tetap mempertahankan sistem kerja yang sama.
Atas dasar itu, mantan pemain tim nasional Prancis tersebut mendorong perubahan pada regulasi dan mekanisme internal. Ia menginginkan proses yang lebih demokratis sehingga FIFA tidak hanya menggantungkan arah organisasi kepada sosok yang berada di posisi tertinggi.
Petit juga mengingatkan bahwa pemilihan kepemimpinan berikutnya akan datang. Momentum tersebut, menurutnya, seharusnya tidak hanya menjadi ajang untuk memilih figur baru. FIFA perlu menjadikan proses tersebut sebagai kesempatan untuk mengevaluasi sistem kekuasaan dan mekanisme pengambilan keputusan.
Ia menekankan pentingnya menghadirkan usulan konkret. Apabila organisasi hanya mengganti presiden tanpa membenahi aturan dan sistem, Petit menilai pola kerja lama berpotensi terus berlangsung.
Para Mantan Pemain Dorong Perubahan Sistemik
Keterlibatan sejumlah mantan pesepak bola memperlihatkan bahwa tuntutan reformasi FIFA tidak hanya berpusat pada satu individu. Kehadiran Mikael Silvestre, Olivier Dacourt, Lucy Bronze, dan Emmanuel Petit membuat isu tata kelola organisasi semakin mendapat perhatian dari kalangan yang memiliki pengalaman langsung di dunia sepak bola profesional.
Mereka ingin perubahan menyentuh struktur organisasi, mekanisme pengambilan keputusan, serta proses demokratisasi di lingkungan FIFA. Dengan pendekatan tersebut, reformasi tidak berhenti ketika organisasi memiliki presiden baru.
Petit menilai perubahan sistem menjadi unsur penting untuk memperbaiki tata kelola dalam jangka panjang. Tanpa pembenahan aturan internal, pergantian pemimpin hanya berpotensi mengubah nama orang yang memegang jabatan tanpa memperbaiki cara organisasi menjalankan kekuasaannya.
Gerakan yang Petit dan sejumlah tokoh sepak bola dukung memang belum menjamin terjadinya perubahan langsung. Namun, petisi tersebut membuka ruang diskusi mengenai transparansi, demokratisasi, dan distribusi kekuasaan dalam organisasi sepak bola dunia.
Pada akhirnya, Petit ingin FIFA melakukan evaluasi yang jauh lebih luas daripada sekadar membicarakan posisi Gianni Infantino. Ia mendorong reformasi FIFA yang menyentuh fondasi organisasi sehingga perubahan kepemimpinan pada masa mendatang juga membawa perubahan nyata terhadap sistem dan tata kelolanya.