Zverev Juara US Open 2026 menjadi hasil akhir dari pertarungan tunggal putra di New York setelah petenis Jerman tersebut menghentikan ambisi Ben Shelton. Alexander Zverev membutuhkan empat set untuk menyelesaikan laga perebutan gelar dengan skor 6-3, 7-6(2), 5-7, dan 6-2 pada Senin (14/9) dini hari WIB.
Trofi dari turnamen lapangan keras tersebut sekaligus menambah catatan istimewa Zverev sepanjang 2026. Dalam satu musim, petenis berusia 29 tahun itu berhasil menguasai dua turnamen Grand Slam.
Beberapa bulan sebelum datang ke New York, Zverev sudah merayakan kesuksesan di Paris. Ia merebut French Open pada Juni dan menjadikan turnamen tersebut sebagai Grand Slam pertama dalam perjalanan kariernya.
Kini, keberhasilan di Amerika Serikat membuat koleksinya bertambah menjadi dua gelar utama.
Pertarungan Dimulai dengan Kendali Zverev
Status unggulan pertama membuat Zverev membawa ekspektasi tinggi menuju laga terakhir. Ia menjawab tekanan tersebut dengan permainan efektif sejak set pembuka.
Alih-alih terlibat dalam reli yang terlalu berisiko, Zverev mampu mengandalkan servis dan menjaga ritme permainan. Strategi tersebut membuat Shelton kesulitan menemukan kesempatan untuk mengambil kendali.
Zverev kemudian menyelesaikan set pertama dengan keunggulan 6-3.
Shelton mencoba mengubah situasi ketika memasuki set kedua. Permainan petenis tuan rumah menjadi lebih kompetitif sehingga kedua pemain harus menentukan pemenang melalui tie-break.
Pada fase penentuan itu, Zverev menunjukkan ketenangan yang lebih baik. Ia membatasi perolehan Shelton hanya dua poin dalam tie-break dan mengamankan set kedua.
Keunggulan dua set menempatkan Zverev dalam posisi ideal. Meski demikian, Shelton masih mempunyai cukup tenaga untuk memberikan perlawanan.
Shelton Sempat Membuka Peluang Comeback
Set ketiga menghadirkan situasi berbeda dibandingkan dua set sebelumnya. Shelton mampu mempertahankan persaingan hingga memasuki fase akhir set.
Petenis Amerika tersebut akhirnya menemukan momentum yang ia butuhkan. Ia merebut set ketiga 7-5 dan memperpanjang pertandingan.
Kemenangan itu sekaligus menjaga harapan publik tuan rumah untuk menyaksikan wakil Amerika Serikat mengangkat trofi tunggal putra.
Zverev tidak membiarkan keadaan tersebut berkembang menjadi comeback.
Memasuki set keempat, ia kembali meningkatkan kontrol terhadap pertandingan. Zverev mengurangi kesempatan Shelton untuk mengembangkan permainan agresif dan secara konsisten mengumpulkan poin.
Keunggulannya semakin sulit dikejar hingga set keempat berakhir 6-2.
Empat set pun cukup bagi Zverev untuk memastikan kemenangan dan meninggalkan lapangan sebagai kampiun.

Alexander Zverev juara US Open 2026.
Efektivitas Servis Membuat Perbedaan
Angka pertandingan memperlihatkan salah satu alasan Zverev mampu bertahan dari tekanan Shelton.
Zverev memperoleh 85 persen poin dari servis pertamanya. Tingkat efektivitas tersebut memberinya fondasi penting untuk menjaga pertandingan tetap berada dalam kontrolnya.
Ia juga menghasilkan 35 winner.
Shelton sebenarnya tampil lebih agresif dalam menghasilkan pukulan pemungkas. Petenis Amerika itu mengumpulkan 47 winner, atau 12 lebih banyak daripada Zverev.
Namun, agresivitas tersebut membawa risiko.
Shelton melakukan 47 unforced error sepanjang pertandingan. Banyaknya kesalahan membuat sejumlah kesempatan untuk menekan Zverev terbuang.
Sebaliknya, Zverev mampu menjaga keseimbangan antara serangan dan konsistensi. Faktor tersebut menjadi penting ketika pertandingan memasuki poin-poin krusial.
Dua Grand Slam Warnai Musim Zverev
Kemenangan di New York mempunyai arti lebih besar daripada sekadar tambahan satu trofi bagi Zverev.
Pada Juni 2026, ia akhirnya berhasil mendapatkan Grand Slam pertamanya melalui French Open. Gelar tersebut mengakhiri penantian panjang setelah sebelumnya ia berkali-kali bersaing di level tertinggi tenis dunia.
Tidak membutuhkan waktu lama, Zverev kembali mencapai puncak.
Kesuksesan di US Open membuatnya kini memiliki dua gelar Grand Slam sepanjang karier. Menariknya, kedua trofi tersebut datang pada tahun yang sama.
Pencapaian itu membuat musim 2026 mempunyai tempat khusus dalam perjalanan karier petenis Jerman tersebut.
Setelah pertandingan berakhir, Zverev juga menunjukkan respek kepada Shelton. Ia memandang lawannya mempunyai kemampuan untuk kembali mencapai pertandingan besar dan suatu saat memiliki kesempatan menjadi juara Grand Slam.
Zverev turut mengakui kuatnya dukungan penonton terhadap Shelton. Atmosfer Arthur Ashe memang lebih banyak memberikan energi kepada petenis tuan rumah, tetapi kondisi itu tidak menghalangi Zverev mempertahankan fokus hingga pertandingan selesai.
Amerika Serikat Masih Menunggu Penerus Andy Roddick
Shelton datang ke final bukan hanya dengan membawa ambisi pribadi. Ia juga memiliki peluang untuk mengakhiri penantian panjang tenis putra Amerika Serikat.
Negara tersebut belum kembali memiliki juara Grand Slam tunggal putra sejak Andy Roddick menguasai US Open pada 2003.
Artinya, kemenangan Shelton di New York berpotensi menghadirkan pencapaian bersejarah bagi tenis Amerika.
Kesempatan tersebut akhirnya belum terwujud.
Walaupun gagal membawa pulang trofi, perjalanan menuju final tetap menjadi pencapaian penting bagi Shelton. Pengalaman menghadapi laga sebesar ini juga dapat menjadi modal dalam perjalanannya mengejar gelar utama berikutnya.
Sementara itu, Zverev meninggalkan New York dengan pencapaian berbeda. Setelah membuka rekening gelar Grand Slam di Paris, ia hanya membutuhkan beberapa bulan untuk menambahkan trofi kedua.
Kini, Zverev juara US Open 2026 sekaligus menegaskan dominasinya pada salah satu periode terbaik sepanjang karier profesionalnya.