Nama Jesse Lingard kembali menjadi bahan perbincangan publik. Namun, kali ini bukan karena aksi atau performanya di dunia sepak bola, melainkan persoalan bisnis yang menyeretnya ke ranah hukum. Perusahaan yang selama ini mengelola hak citra dan aktivitas komersial miliknya harus menerima kenyataan pahit setelah resmi di bubarkan oleh pengadilan.
Kasus ini menunjukkan bahwa perjalanan seorang atlet profesional di luar lapangan tidak selalu berjalan mulus, terutama ketika memasuki dunia bisnis yang penuh risiko.
Perusahaan JL Commercial Limited Mengalami Masalah Keuangan Serius
Perusahaan milik Lingard, JL Commercial Limited, di ketahui mengalami kesulitan finansial dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi tersebut semakin memburuk hingga akhirnya perusahaan tidak mampu memenuhi kewajiban pembayaran utangnya.
Total utang yang harus di tanggung perusahaan tersebut mencapai sekitar £1,6 juta atau setara dengan lebih dari Rp30 miliar. Jumlah tersebut menjadi beban besar yang tidak dapat di selesaikan dalam waktu yang di tentukan, sehingga memicu tindakan hukum lebih lanjut.
Gugatan dari Firma Hukum Berujung di Pengadilan
Permasalahan ini bermula dari gugatan yang di ajukan oleh firma hukum Pinsent Masons. Mereka mengklaim bahwa perusahaan Lingard belum menyelesaikan kewajiban pembayaran atas layanan yang telah di berikan.
Kasus ini kemudian di proses di High Court Inggris. Dalam persidangan, pihak pengadilan menilai bahwa perusahaan tidak menunjukkan kemampuan untuk melunasi utang yang ada. Akhirnya, keputusan pembubaran perusahaan pun di ambil sebagai langkah hukum yang sah.
Berdasarkan data keuangan terakhir, total kewajiban perusahaan mencapai £1.562.092. Rinciannya meliputi pinjaman bank sebesar £22.500 serta tunggakan pajak kepada otoritas pajak Inggris (HMRC) sebesar £36.602.
Dibentuk untuk Mengembangkan Brand Pribadi
JL Commercial Limited di dirikan pada tahun 2018 dengan tujuan untuk mengelola berbagai kepentingan komersial Jesse Lingard. Perusahaan ini menjadi pusat pengelolaan brand pribadi sang pemain, termasuk dalam bidang fashion dan lisensi merek.
Salah satu proyek yang cukup di kenal adalah brand pakaian JLingz. Selain itu, Lingard juga mengembangkan berbagai produk lain seperti sepatu dan aksesoris dengan memanfaatkan popularitasnya sebagai pesepak bola profesional.
Tidak hanya itu, ia juga sempat mengamankan hak atas selebrasi khasnya yang populer di kalangan penggemar sepak bola.

Jesse Lingard ketika membela West Ham.
Penutupan Brand Menjadi Tanda Awal Kemunduran
Sebelum perusahaan resmi di bubarkan, tanda-tanda kesulitan bisnis sebenarnya sudah terlihat. Pada awal tahun, brand JLingz telah lebih dulu di hentikan operasionalnya karena mengalami kerugian yang cukup besar.
Laporan menyebutkan bahwa lini pakaian tersebut menumpuk utang hingga hampir £300.000. Kondisi tersebut memaksa perusahaan untuk masuk ke dalam proses likuidasi sukarela sebagai upaya menyelesaikan kewajiban yang ada.
Hal ini memperkuat indikasi bahwa bisnis yang di jalankan tidak mampu bertahan dalam jangka panjang.
Karier Lingard Tetap Berjalan di Tengah Masalah
Meski menghadapi masalah bisnis yang cukup serius, Jesse Lingard tetap melanjutkan kariernya di dunia sepak bola. Saat ini, ia di ketahui bermain untuk klub asal Brasil, Corinthians.
Kepindahan ini menjadi langkah baru dalam perjalanan kariernya, sekaligus kesempatan untuk kembali menunjukkan kualitasnya di lapangan. Di klub tersebut, ia juga kembali bertemu dengan mantan rekan setimnya, Andreas Pereira.
Sebelumnya, Lingard sempat bermain di Korea Selatan bersama FC Seoul. Selama di sana, ia mencatatkan 67 penampilan dan berhasil mencetak 19 gol, yang menunjukkan kontribusi cukup signifikan bagi tim.
Kontrak Lingard bersama Corinthians di kabarkan berlaku hingga akhir musim, dengan opsi perpanjangan selama satu tahun apabila kedua pihak sepakat.
Kesimpulan
Kasus yang di alami Jesse Lingard menjadi gambaran nyata bahwa dunia bisnis memiliki tantangan tersendiri, bahkan bagi figur publik sekalipun. Kegagalan dalam mengelola keuangan dapat berdampak besar, termasuk hingga pembubaran perusahaan.
Meski demikian, Lingard masih memiliki peluang untuk bangkit melalui karier sepak bolanya. Ke depan, pengalaman ini bisa menjadi pelajaran berharga dalam mengelola usaha dan mengambil keputusan bisnis yang lebih matang.