FIFPro Kritik FIFA kembali menjadi sorotan setelah organisasi yang mewakili pesepak bola profesional di seluruh dunia menyampaikan kecaman terhadap cara FIFA menangani proposal pembentukan FIFA Forward Enterprise (FFE). Organisasi tersebut menilai proses penyusunan rencana itu berlangsung tanpa keterbukaan dan mengabaikan prinsip tata kelola yang seharusnya di junjung badan sepak bola dunia.
FIFPro menyatakan bahwa polemik tersebut tidak hanya berkaitan dengan pembatalan sebuah proposal bisnis. Menurut mereka, persoalan yang lebih besar adalah menurunnya kepercayaan para pemain, serikat pekerja sepak bola, dan berbagai pemangku kepentingan terhadap mekanisme pengambilan keputusan di tubuh FIFA.
Organisasi yang menaungi lebih dari 70 serikat pemain dari berbagai negara itu juga menilai Presiden FIFA Gianni Infantino memiliki tanggung jawab besar atas munculnya kontroversi tersebut. FIFPro menilai proses penyusunan proposal FFE menunjukkan adanya praktik kepemimpinan yang tidak sesuai dengan prinsip transparansi organisasi.
FIFPro Menyoroti Proses Penyusunan FFE
Kontroversi bermula ketika muncul rencana pembentukan FIFA Forward Enterprise, perusahaan yang di proyeksikan mengelola berbagai aset komersial, termasuk Piala Dunia. Dalam perkembangannya, muncul usulan penjualan sebagian saham perusahaan tersebut kepada investor swasta.
Rencana itu memicu kritik dari berbagai pihak karena di nilai dapat mengubah tata kelola salah satu kompetisi olahraga terbesar di dunia. FIFPro menilai penyusunan proposal berlangsung secara tertutup tanpa melibatkan pihak-pihak yang memiliki kepentingan langsung terhadap masa depan sepak bola.
Menurut organisasi tersebut, berbagai pembahasan mengenai proposal itu hampir mencapai tahap kesepakatan sebelum Dewan FIFA, asosiasi anggota, pemain, maupun pemangku kepentingan lain mengetahui keberadaannya. Situasi itu memunculkan pertanyaan mengenai transparansi proses pengambilan keputusan di lingkungan FIFA.
FIFPro menegaskan bahwa persoalan tersebut tidak sekadar mencerminkan kelemahan administrasi. Mereka menganggap proses itu menunjukkan penyalahgunaan kewenangan dalam kepemimpinan organisasi.
Pembatalan Proposal Dinilai Belum Menyelesaikan Masalah
FIFA sebelumnya mengakui terdapat kesalahan dalam proses pembentukan FFE. Meski demikian, badan sepak bola dunia itu menyampaikan bahwa Presiden Gianni Infantino tetap memperoleh dukungan dari anggota Dewan FIFA yang menghadiri pertemuan di Maroko.
Bagi FIFPro, keputusan menghentikan proposal memang menjadi langkah penting untuk mencegah perubahan permanen terhadap kepemilikan dan pengelolaan Piala Dunia. Namun, organisasi tersebut menilai keputusan itu belum cukup menghapus persoalan yang telah muncul.
FIFPro berpendapat bahwa kerusakan kepercayaan tidak dapat di perbaiki hanya melalui pencabutan proposal ataupun penyampaian pernyataan resmi. Organisasi tersebut menilai akar masalah berada pada proses pengambilan keputusan yang berlangsung tanpa keterbukaan.
Karena itu, mereka meminta FIFA melakukan pembenahan yang lebih mendasar agar kejadian serupa tidak kembali terjadi pada masa mendatang.

Ilustrasi logo FIFA.
Reformasi Tata Kelola Menjadi Tuntutan Utama
Dalam pernyataannya, FIFPro menegaskan bahwa reformasi tata kelola kini menjadi kebutuhan yang tidak bisa di tunda lagi. Organisasi tersebut menganggap FIFA harus memperkuat sistem pengawasan internal serta memastikan setiap keputusan strategis melibatkan seluruh pihak terkait.
FIFPro juga menilai reformasi tidak boleh berhenti pada perubahan prosedur administratif semata. Menurut mereka, FIFA harus membangun kembali budaya organisasi yang menjunjung akuntabilitas dan transparansi dalam setiap kebijakan.
Organisasi itu menambahkan bahwa reformasi memang dapat memperbaiki arah organisasi ke depan. Namun, langkah tersebut tidak otomatis menghapus persoalan yang telah terjadi selama proses penyusunan proposal FFE.
Dengan kata lain, perubahan tata kelola harus menjadi komitmen jangka panjang, bukan sekadar respons terhadap tekanan publik.
Para Pemain Bukan Penyebab Krisis
FIFPro turut menegaskan bahwa para pesepak bola profesional tidak memiliki peran dalam munculnya polemik tersebut. Sebaliknya, para pemain justru menjadi pihak yang terdampak apabila tata kelola sepak bola internasional kehilangan kredibilitas.
Organisasi itu menyatakan akan terus memperjuangkan sistem yang lebih kuat demi melindungi kepentingan pemain. Selain itu, mereka menginginkan kepemimpinan FIFA mampu memperoleh kembali kepercayaan komunitas sepak bola melalui tindakan nyata, bukan sekadar janji.
Menurut FIFPro, masa depan sepak bola membutuhkan lembaga yang memiliki mekanisme perlindungan lebih baik serta proses pengambilan keputusan yang dapat di pertanggungjawabkan.
Surat Resmi Dikirim kepada Sekjen FIFA
Selain menyampaikan kritik melalui pernyataan publik, FIFPro juga mengirim surat resmi kepada Sekretaris Jenderal FIFA, Mattias Grafstrom. Surat tersebut memuat sejumlah tuntutan terkait perbaikan tata kelola organisasi.
Dalam surat itu, FIFPro menegaskan bahwa presiden FIFA harus menjalankan tugas untuk menjaga kepentingan institusi, bukan bertindak melampaui mekanisme organisasi. Mereka juga mengingatkan bahwa Piala Dunia merupakan aset milik sepak bola dunia sehingga pengelolaannya harus mengutamakan kepentingan bersama.
FIFPro menilai jabatan presiden bukanlah sarana untuk mengambil keputusan strategis secara sepihak. Sebaliknya, setiap kebijakan penting harus melalui proses yang transparan, melibatkan lembaga terkait, dan mempertimbangkan masukan dari seluruh pemangku kepentingan.
FIFPro Soroti Kebijakan Lain FIFA
Dalam surat yang sama, FIFPro juga mengkritisi pola pengambilan keputusan FIFA pada sejumlah kebijakan lain. Salah satu contoh yang mereka angkat adalah penerapan hydration breaks atau jeda minum dalam pertandingan.
Menurut FIFPro, kebijakan tersebut terlihat lebih menyerupai uji coba konsep komersial di bandingkan langkah yang benar-benar berfokus pada kesejahteraan pemain. Organisasi itu meminta FIFA memastikan setiap kebijakan olahraga selalu mengutamakan aspek keselamatan dan kepentingan atlet.
Melalui kritik tersebut, FIFPro kembali mengingatkan pentingnya komitmen bersama antara FIFA dan para pemain profesional. Organisasi itu berharap badan sepak bola dunia dapat membangun sistem tata kelola yang lebih transparan, akuntabel, dan mampu menjaga kepercayaan seluruh komunitas sepak bola internasional.