Erling Haaland masih menjadi salah satu nama teratas dalam daftar pencetak gol Premier League musim 2025/2026. Penyerang andalan Manchester City tersebut menunjukkan performa luar biasa pada awal musim dengan kontribusi gol yang sangat konsisten. Namun, memasuki paruh kedua kompetisi, performa striker asal Norwegia itu mulai mengalami penurunan yang cukup signifikan.

Penurunan produktivitas ini menjadi sorotan banyak pihak, terutama karena Haaland di kenal sebagai salah satu penyerang paling tajam di dunia sepak bola saat ini. Meskipun masih berada di papan atas daftar top skor, jumlah gol yang di cetaknya dalam beberapa pekan terakhir jauh lebih sedikit dibandingkan dengan periode awal musim.

Situasi ini juga berdampak pada performa Manchester City dalam persaingan gelar liga. Hasil imbang yang di raih tim asuhan Pep Guardiola ketika menghadapi West Ham United menjadi salah satu momen yang memperlihatkan tantangan yang sedang di hadapi Haaland di lini depan.

Performa Tajam di Awal Musim

Pada fase awal musim 2025/2026, Erling Haaland tampil sangat impresif. Ia berhasil mencetak 19 gol hanya dalam 17 pertandingan liga pertama. Statistik tersebut menunjukkan tingkat efektivitas yang tinggi sebagai ujung tombak Manchester City.

Produktivitas tersebut sempat menempatkan Haaland pada jalur untuk kembali meraih penghargaan Golden Boot Premier League untuk ketiga kalinya secara beruntun. Konsistensi dalam mencetak gol menjadikannya sebagai salah satu pemain paling berbahaya bagi pertahanan lawan.

Kecepatan, kekuatan fisik, serta kemampuan penyelesaian akhir yang tajam membuat Haaland menjadi ancaman serius di setiap pertandingan. Kombinasi tersebut juga menjadi salah satu faktor penting yang membantu Manchester City bersaing di papan atas klasemen.

Penurunan Produktivitas Memasuki Tahun 2026

Memasuki awal tahun 2026, performa gol Haaland mulai mengalami penurunan. Dalam 12 pertandingan liga terakhir, ia hanya mampu mencetak tiga gol. Statistik ini tentu berbeda jauh dibandingkan dengan performa luar biasanya pada paruh pertama musim.

Situasi ini kembali terlihat saat Manchester City menghadapi West Ham United. Dalam pertandingan tersebut, Haaland tidak berhasil mencatatkan namanya di papan skor dan pertandingan berakhir dengan hasil imbang 1-1.

Hasil tersebut tidak hanya memengaruhi statistik pribadi Haaland, tetapi juga berdampak pada posisi Manchester City dalam persaingan gelar. Tim asuhan Pep Guardiola kini tertinggal cukup jauh dari Arsenal yang berada di puncak klasemen.

Penjelasan Pep Guardiola Tentang Posisi Striker

Pelatih Manchester City, Pep Guardiola, memberikan pandangannya mengenai situasi yang sedang dialami oleh Haaland. Menurut Guardiola, posisi sebagai striker utama merupakan salah satu posisi paling sulit dalam sepak bola modern.

Ia menjelaskan bahwa seorang penyerang tengah biasanya menjadi fokus utama pertahanan lawan. Para bek tengah serta gelandang bertahan sering memberikan perhatian ekstra untuk menghentikan pergerakan striker berbahaya seperti Haaland.

Guardiola juga menegaskan bahwa penurunan jumlah gol tersebut tidak berkaitan dengan kondisi fisik pemain. Menurutnya, faktor tempo permainan serta strategi lawan yang sangat disiplin dalam bertahan menjadi salah satu penyebab utama menurunnya produktivitas sang penyerang.

Erling Haaland

Ekspresi kecewa Erling Haaland di akhir laga Liga Inggris antara Manchester City vs Nottingham Forest di Etihad Stadium.

Pengaruh Sistem Permainan Manchester City

Selain tekanan dari lini pertahanan lawan, perubahan sistem permainan Manchester City juga turut memengaruhi performa Haaland. Dalam beberapa pertandingan terakhir, City mencoba menggunakan pendekatan taktik yang berbeda.

Dalam sembilan dari sebelas pertandingan terakhir, Manchester City memainkan dua penyerang sekaligus. Haaland kerap dipasangkan dengan Omar Marmoush di lini depan, sementara Antoine Semenyo di tempatkan pada posisi gelandang serang.

Ketika menghadapi West Ham, Guardiola bahkan memulai pertandingan dengan formasi 4-3-1-2. Namun strategi tersebut tidak berjalan secara optimal. Struktur pertahanan lawan yang rapat membuat Haaland kesulitan menemukan ruang untuk menciptakan peluang.

West Ham juga memperkuat lini belakang mereka dengan memainkan tiga bek tengah. Pada babak kedua, mereka bahkan menambah satu gelandang bertahan untuk mempersempit ruang gerak Haaland di area penalti.

Statistik pertandingan menunjukkan bahwa dalam 12 laga terakhir Haaland telah melepaskan 36 tembakan. Namun tingkat konversinya hanya sekitar delapan persen, angka yang cukup rendah di bandingkan dengan standar performa biasanya.

Tantangan Manchester City di Sisa Musim

Di sisi lain, Manchester City kini menghadapi tekanan besar dalam persaingan gelar Premier League. Dengan delapan pertandingan tersisa, mereka tertinggal sembilan poin dari Arsenal yang berada di puncak klasemen.

Selain kompetisi domestik, Manchester City juga memiliki tantangan besar di ajang Liga Champions. Mereka harus berusaha membalikkan keadaan setelah tertinggal agregat 3-0 dari Real Madrid pada leg pertama babak 16 besar.

Meskipun menghadapi situasi yang cukup sulit, Pep Guardiola tetap menunjukkan optimisme terhadap timnya. Ia menegaskan bahwa seluruh pemain Manchester City akan memberikan usaha maksimal untuk memperbaiki situasi di sisa musim ini.

Performa Erling Haaland tentu akan menjadi salah satu faktor penting bagi peluang Manchester City untuk bangkit. Jika sang striker mampu kembali menemukan ketajamannya, peluang City untuk meraih hasil positif di berbagai kompetisi masih terbuka lebar.