Piala Dunia 2026 – Perjalanan Timnas Korea Selatan di Piala Dunia 2026 berakhir dengan hasil yang jauh dari harapan. Setelah gagal melewati babak penyisihan grup, skuad Taegeuk Warriors harus pulang lebih cepat sekaligus menghadapi gelombang kekecewaan dari para pendukungnya. Kepulangan rombongan tim nasional di Bandara Internasional Incheon bahkan berlangsung dalam suasana yang penuh tekanan akibat aksi protes yang dilakukan ratusan suporter.
Kegagalan menembus babak gugur menjadi pukulan besar bagi sepak bola Korea Selatan. Dengan materi pemain yang di penuhi nama-nama berpengalaman dan berkiprah di kompetisi elite Eropa, ekspektasi publik terhadap tim asuhan Hong Myung-bo sangat tinggi. Namun hasil yang di peroleh justru berbanding terbalik dengan harapan tersebut.
Kepulangan Timnas Korea Selatan Disambut Gelombang Protes
Hong Myung-bo bersama delapan pemain Timnas Korea Selatan tiba di Bandara Internasional Incheon pada Senin dini hari waktu setempat. Sejak beberapa jam sebelum kedatangan tim, ratusan pendukung telah memadati terminal kedatangan untuk menyampaikan rasa kecewa mereka atas hasil yang di raih di Piala Dunia 2026.
Berbagai spanduk bernada kritik terlihat di bentangkan oleh para suporter. Tidak sedikit di antaranya yang secara langsung meminta Hong Myung-bo meninggalkan jabatannya sebagai pelatih kepala. Selain membentangkan poster protes, para pendukung juga meneriakkan slogan-slogan yang menyuarakan ketidakpuasan terhadap performa tim nasional selama turnamen berlangsung.
Ketika rombongan pemain dan staf mulai keluar dari area kedatangan, sorakan protes semakin keras terdengar. Hong Myung-bo berjalan meninggalkan bandara tanpa memberikan komentar kepada media maupun para pendukung yang telah menunggu kedatangannya.
Beberapa pemain seperti Lee Kang-in, Cho Hyun-woo, dan Hwang In-beom juga terlihat mendampingi rombongan. Meski demikian, mereka memilih tidak memberikan tanggapan atas aksi demonstrasi yang berlangsung di lokasi.
Performa Buruk Korea Selatan di Piala Dunia 2026
Langkah Korea Selatan di Piala Dunia 2026 terhenti pada fase grup setelah hanya mampu mengumpulkan satu kemenangan dari tiga pertandingan yang di jalani. Dua laga lainnya berakhir dengan kekalahan sehingga membuat mereka finis di posisi ketiga Grup A.
Hasil tersebut membuat Korea Selatan gagal mengamankan tiket menuju babak 32 besar. Berdasarkan klasemen akhir turnamen, mereka menempati peringkat ke-34, yang menjadi salah satu pencapaian terburuk sepanjang sejarah keikutsertaan negara tersebut di ajang Piala Dunia.
Kegagalan ini terasa semakin menyakitkan karena skuad Korea Selatan di perkuat sejumlah pemain berkualitas yang tampil di berbagai kompetisi elite Eropa. Kehadiran pemain seperti Son Heung-min, Kim Min-jae, Lee Kang-in. Hingga Hwang In-beom sempat membuat publik optimistis tim mampu melangkah lebih jauh.
Namun sepanjang fase grup, performa tim di nilai belum mampu menunjukkan kualitas terbaik. Konsistensi permainan menjadi salah satu aspek yang paling banyak mendapat sorotan dari pengamat maupun pendukung sepak bola Korea Selatan.

Seorang pria memegang spanduk bertuliskan Hong Myung-bo! Ludahkan uangnya dan keluar! Bubarkan KFA sambil menunggu kedatangan pelatih kepala timnas Korea Selatan, Hong Myung-bo, yang telah mengumumkan pengunduran dirinya setelah timnya tersingkir di babak penyisihan grup Piala Dunia FIFA 2026, di Bandara Internasional Seoul-Incheon, Incheon pada 30 Juni 2026. Kekalahan telak Korea Selatan di babak pertama Piala Dunia telah memicu kemarahan di dalam negeri dan seruan untuk perombakan total di pucuk pimpinan belum mereda setelah pengunduran diri pelatih. Pelatih Korea Selatan mengundurkan diri pada 28 Juni 2026, sehari setelah timnya tersingkir dari babak penyisihan grup Piala Dunia dan setelah mendapat kecaman dari presiden negara tersebut.
Kekalahan dari Afrika Selatan Menjadi Penentu
Laga terakhir menghadapi Afrika Selatan menjadi pertandingan yang menentukan nasib Korea Selatan di turnamen. Pada pertandingan tersebut, Taegeuk Warriors harus mengakui keunggulan lawan setelah kalah dengan skor tipis 0-1.
Hasil imbang sebenarnya sudah cukup untuk membawa Korea Selatan melangkah ke fase gugur. Sayangnya, gol yang di cetak Afrika Selatan membuat peluang tersebut sirna dan memaksa Korea Selatan mengakhiri perjalanan mereka lebih awal.
Kekalahan itu langsung memicu gelombang kritik dari berbagai kalangan. Banyak pihak menilai tim gagal memanfaatkan potensi besar yang di miliki. Terutama mengingat kualitas individu para pemain yang tampil di level tertinggi sepak bola dunia.
Ketua Federasi Sepak Bola Korea Ikut Menjadi Sasaran Kritik
Tidak hanya Hong Myung-bo yang menjadi sasaran kemarahan publik. Ketua Federasi Sepak Bola Korea (KFA), Chung Mong-kyu, juga mendapat sambutan serupa ketika tiba di Bandara Incheon sekitar 40 menit setelah rombongan tim nasional.
Sejumlah pendukung mengepung area kedatangannya sambil meneriakkan berbagai kritik terhadap kepemimpinan federasi. Mereka menilai kegagalan di Piala Dunia tidak hanya menjadi tanggung jawab pelatih, tetapi juga di pengaruhi oleh kebijakan federasi dalam mengelola sepak bola nasional.
Situasi di sekitar bandara sempat memanas sehingga aparat kepolisian menurunkan sekitar 160 personel untuk menjaga keamanan. Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk antisipasi agar aksi protes tidak berkembang menjadi kericuhan maupun tindakan yang membahayakan rombongan tim nasional.
Sebagai bentuk penghormatan terhadap situasi yang berkembang, Korea Selatan juga memutuskan tidak mengadakan seremoni penyambutan resmi bagi tim nasional. Sesuatu yang selama ini menjadi tradisi sejak Piala Dunia 2002.
Hong Myung-bo Memilih Mengundurkan Diri
Di tengah derasnya kritik yang di terima, Hong Myung-bo akhirnya mengambil keputusan untuk mengakhiri masa jabatannya sebagai pelatih kepala Timnas Korea Selatan.
Pengumuman pengunduran diri tersebut disampaikan sehari sebelum kepulangan tim dari markas mereka di Guadalajara, Meksiko. Dalam pernyataannya, Hong mengaku bertanggung jawab penuh atas kegagalan Korea Selatan memenuhi target di Piala Dunia 2026.
Keputusan tersebut sekaligus membuka babak baru bagi sepak bola Korea Selatan yang kini harus segera mencari sosok pelatih baru untuk mempersiapkan agenda internasional berikutnya.
Sementara itu, kapten tim Son Heung-min bersama sejumlah pemain dan anggota staf lainnya di jadwalkan kembali ke Korea Selatan secara bertahap hingga awal Juli 2026. Fokus federasi kini tertuju pada proses evaluasi menyeluruh. Guna membangun kembali kekuatan tim nasional agar mampu tampil lebih kompetitif pada turnamen internasional mendatang.