Jeda Hidrasi Piala Dunia 2026 memicu perdebatan sepanjang turnamen berlangsung. FIFA menerapkan jeda selama tiga menit di pertengahan setiap babak. Organisasi itu menyebut aturan tersebut bertujuan menjaga kondisi pemain. Namun, banyak pelatih, pemain, dan pengamat justru mempertanyakan manfaatnya. Mereka menilai kebijakan tersebut mengganggu ritme pertandingan dan mengubah karakter sepak bola. Kritik juga mengarah pada dugaan bahwa kepentingan komersial ikut mendorong lahirnya aturan baru tersebut.

Mauricio Pochettino Menolak Jeda Tambahan

Pelatih Timnas Amerika Serikat, Mauricio Pochettino, menjadi salah satu sosok yang paling vokal menyampaikan kritik. Menurutnya, FIFA hanya perlu memberikan jeda tambahan ketika cuaca benar-benar ekstrem.

Pochettino menilai pertandingan yang berlangsung dalam suhu normal tidak membutuhkan penghentian permainan. Ia percaya ritme pertandingan harus terus berjalan tanpa interupsi yang tidak perlu.

Menurutnya, jeda selama tiga menit membuat tempo permainan berubah. Pemain juga harus membangun kembali fokus setelah pertandingan dimulai lagi. Kondisi itu dapat memengaruhi kualitas laga secara keseluruhan.

Sementara itu, stasiun televisi di Amerika Serikat memanfaatkan jeda tersebut untuk menayangkan iklan. Fox Sports memasang tarif sekitar 200 ribu hingga 300 ribu dolar AS untuk iklan berdurasi 30 detik selama turnamen. Nilai itu meningkat hingga sekitar 750 ribu dolar AS ketika kompetisi memasuki fase akhir.

FIFA juga menghadirkan pertunjukan hiburan pada final Piala Dunia 2026. Konsep itu mengikuti gaya Super Bowl. Akibatnya, waktu turun minum berlangsung sekitar 27 menit. Durasi tersebut melampaui batas 15 menit yang tercantum dalam Laws of the Game.

Ben Foster Soroti Dampak terhadap Kondisi Pemain

Mantan kiper Manchester United, Ben Foster, ikut mengkritik kebijakan FIFA. Ia menilai jeda panjang dapat memengaruhi kondisi fisik para pemain. Risiko itu semakin besar bagi pemain yang telah berusia lebih dari 32 tahun.

Foster mengatakan tubuh pemain bisa kehilangan suhu ideal ketika berhenti terlalu lama. Ia bahkan menyarankan setiap ruang ganti menyediakan sepeda statis. Fasilitas itu membantu pemain tetap bergerak sebelum kembali memasuki lapangan.

Menurut Foster, pertandingan kini terasa seperti terbagi menjadi empat bagian. Ia menilai perubahan tersebut menghilangkan ciri khas sepak bola yang selama ini berlangsung dalam dua babak penuh.

Ia juga memperkirakan aturan serupa bisa masuk ke kompetisi domestik. Premier League menjadi salah satu liga yang menurutnya berpotensi mengikuti langkah FIFA apabila aturan tersebut menghasilkan keuntungan finansial.

Foster percaya aspek komersial memiliki pengaruh besar terhadap kebijakan itu. Selama aturan mampu meningkatkan pendapatan, penyelenggara kompetisi kemungkinan tetap mempertahankannya.

Jeda Hidrasi Piala Dunia 2026

Crysencio Summerville #24 dari Timnas Belanda minum saat istirahat minum (hydration break) dalam pertandingan Grup F Piala Dunia 2026 antara Belanda dan Jepang di Stadion Dallas pada 15 Juni 2026 di Arlington, Texas.

Liga Domestik Berpotensi Mengikuti Langkah FIFA

Ben Foster mengaku khawatir aturan jeda hidrasi menyebar ke berbagai kompetisi. Ia menilai klub dan operator liga bisa melihat peluang tambahan pemasukan dari hak siar maupun iklan.

Menurutnya, pelatih juga memperoleh keuntungan taktis dari jeda tersebut. Mereka dapat memberikan instruksi baru saat pertandingan berlangsung. Situasi itu membuat alur permainan berubah.

Foster kemudian membandingkan kondisi tersebut dengan penggunaan VAR. Banyak suporter menolak teknologi itu sejak awal. Namun, kompetisi tetap menggunakannya karena penyelenggara telah mengeluarkan investasi besar.

Ia menduga UEFA dapat mencoba aturan serupa di Liga Champions. Meski begitu, UEFA sudah menegaskan tidak akan menerapkan kebijakan tersebut.

Pelatih Timnas Inggris, Thomas Tuchel, juga menyampaikan pandangan yang sama. Ia menilai jeda di tengah babak mengganggu ritme pertandingan. Menurutnya, aturan itu juga mengurangi identitas sepak bola yang selama ini dikenal cepat dan mengalir.

Kontroversi Lain yang Mengiringi Piala Dunia 2026

Jeda hidrasi bukan satu-satunya isu yang mengundang perhatian selama Piala Dunia 2026. FIFA juga menghadapi berbagai kontroversi lain di dalam maupun di luar lapangan.

Salah satu sorotan muncul setelah penyerang Timnas Amerika Serikat, Folarin Balogun, memperoleh penangguhan hukuman kartu merah. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengaku menghubungi Presiden FIFA, Gianni Infantino, dan meminta peninjauan terhadap keputusan tersebut.

Selain itu, harga tiket pertandingan terus mengalami kenaikan. Harga tiket final bahkan disebut mencapai sekitar 2,3 juta dolar AS untuk alokasi tertentu.

Turnamen juga menghadapi persoalan terkait kebijakan imigrasi Amerika Serikat. Sejumlah suporter dari beberapa negara gagal memasuki wilayah Amerika Serikat karena aturan larangan perjalanan.

Masalah itu juga menimpa wasit asal Somalia, Omar Artan. Petugas menolak kedatangannya saat tiba di Bandara Miami.

Berbagai kontroversi tersebut membuat Piala Dunia 2026 menjadi bahan perbincangan luas. Banyak pihak menilai FIFA perlu mengevaluasi sejumlah kebijakan. Jeda hidrasi menjadi salah satu aturan yang paling banyak mendapat sorotan karena dinilai mengubah ritme pertandingan dan membuka ruang yang lebih besar bagi kepentingan komersial.