Cristiano Ronaldo – Pertandingan Portugal kontra Kroasia pada babak gugur Piala Dunia 2026 tidak hanya menyuguhkan duel sengit di atas lapangan, tetapi juga memunculkan momen yang menjadi perbincangan luas di media sosial. Selain kemenangan dramatis Portugal dengan skor 2-1, perhatian publik tertuju kepada Cristiano Ronaldo yang beberapa kali tertangkap kamera di duga mengucapkan kata “bismillah” sebelum menjalankan situasi bola mati.
Momen tersebut memancing beragam respons dari penggemar sepak bola maupun masyarakat umum. Sebagian memberikan apresiasi atas sikap Ronaldo, sementara yang lain mempertanyakan penggunaan frasa yang identik dengan ajaran Islam oleh seorang pesepak bola yang di ketahui menganut agama Katolik.
Fenomena ini kemudian mendapat perhatian dari kalangan akademisi yang mencoba melihatnya dari perspektif keagamaan sekaligus sosiologi.
Kemenangan Portugal Berlangsung Dramatis
Laga Portugal menghadapi Kroasia berlangsung dengan tensi tinggi sejak menit awal. Kedua tim saling memberikan tekanan dan beberapa kali menciptakan peluang berbahaya di depan gawang lawan.
Drama pertandingan semakin terasa ketika gol yang di cetak Cristiano Ronaldo sempat di anulir wasit karena posisi offside. Kroasia pun mengalami situasi serupa setelah gol mereka juga tidak di sahkan akibat pelanggaran yang sama.
Meski demikian, Portugal akhirnya mampu memastikan kemenangan dengan skor 2-1. Hasil tersebut membawa mereka melangkah ke babak berikutnya sekaligus mempertegas kualitas skuad asuhan mereka dalam menghadapi pertandingan penting.
Di balik hasil tersebut, sorotan publik justru bergeser kepada tindakan Ronaldo sebelum mengambil tendangan bebas dan penalti yang kemudian viral di berbagai platform media sosial.
Ucapan Ronaldo Sebelum Eksekusi Bola Mati Menjadi Perhatian
Dalam tayangan pertandingan, Ronaldo terlihat menggerakkan bibir sesaat sebelum mengeksekusi tendangan bebas pada menit ke-11. Adegan serupa kembali terlihat ketika ia bersiap mengambil tendangan penalti pada menit ke-66.
Banyak pengguna media sosial menduga bahwa pemain berusia 41 tahun itu mengucapkan kata “bismillah”, sebuah ungkapan yang dalam bahasa Arab bermakna memulai sesuatu dengan menyebut nama Allah.
Karena Ronaldo di kenal sebagai pemeluk agama Katolik, dugaan tersebut langsung memunculkan diskusi yang cukup luas. Ada yang menilai tindakan tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya tempat ia kini berkarier, sementara sebagian lainnya memperdebatkan apakah frasa tersebut boleh di ucapkan oleh seseorang yang berbeda keyakinan.
Perbincangan itu semakin ramai karena Ronaldo telah menghabiskan beberapa musim terakhir bermain bersama klub Arab Saudi, Al Nassr.

Cristiano Ronaldo dalam laga Portugal vs Kroasia di Piala Dunia 2026 (kiri) dan saat membela Al Nassr di Liga Pro Saudi 2025/2026 (kanan)
Pengaruh Lingkungan Dinilai Berperan Besar
Guru Besar Ilmu Pemerintahan Universitas Islam Malang (UNISMA), Profesor M. Mas’ud Said, memberikan pandangan mengenai fenomena tersebut dari sudut pandang sosiologi.
Menurutnya, setiap individu tidak dapat di pisahkan dari pengaruh lingkungan tempat ia hidup dan berinteraksi. Hal itu juga berlaku bagi seorang atlet kelas dunia seperti Cristiano Ronaldo.
Selama beberapa tahun tinggal di Arab Saudi, Ronaldo menjalani kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat yang menggunakan bahasa Arab dan memiliki budaya Islam yang kuat. Interaksi yang berlangsung secara terus-menerus di nilai sangat mungkin membuat seseorang terbiasa mendengar. Maupun mengucapkan berbagai ungkapan yang umum di gunakan dalam kehidupan masyarakat setempat.
Mas’ud Said menjelaskan bahwa kondisi tersebut merupakan bagian dari proses sosial yang dalam ilmu sosiologi di kenal sebagai milieu. Yakni lingkungan yang membentuk pola pikir, perilaku, hingga kebiasaan seseorang melalui interaksi yang berlangsung dalam jangka waktu panjang.
Dengan tinggal, bekerja, dan membangun kehidupan keluarga di Arab Saudi, Ronaldo di nilai mengalami proses adaptasi yang wajar terhadap budaya di sekitarnya.
Pandangan dari Sisi Akidah
Selain membahas aspek sosiologi, Profesor Mas’ud Said juga menjelaskan fenomena tersebut dari sudut pandang akidah Islam.
Menurutnya, menyebut nama Allah ketika memulai suatu pekerjaan pada dasarnya merupakan bentuk doa dan harapan agar aktivitas yang dilakukan memperoleh kemudahan serta keberkahan.
Ia menilai tidak terdapat larangan bagi seseorang untuk mengucapkan nama Allah ketika menjalankan suatu aktivitas. Baik pekerjaan ringan maupun pekerjaan yang membutuhkan usaha besar. Oleh karena itu, apabila benar Ronaldo mengucapkan frasa tersebut. Hal itu dapat di pahami sebagai bagian dari kebiasaan yang terbentuk melalui interaksi sosial, bukan semata-mata persoalan identitas agama.
Karakter Juara dan Spiritualitas Profesional Ronaldo
Mas’ud Said juga menyoroti karakter pribadi Cristiano Ronaldo yang selama ini di kenal memiliki disiplin tinggi, etos kerja luar biasa, dan keinginan kuat untuk terus menjadi yang terbaik.
Menurutnya, karakter seorang juara selalu di sertai dengan spiritualitas profesional, yakni perpaduan antara kerja keras, latihan yang konsisten, mental kuat. Serta keyakinan sebelum menjalani sebuah tantangan.
Ia juga mengingatkan bahwa Ronaldo di kenal sangat dekat dengan ibunya. Kedekatan tersebut di nilai menjadi salah satu fondasi pembentukan karakter sang pemain. Termasuk kebiasaan untuk berdoa atau memohon pertolongan Tuhan sebelum menghadapi situasi penting dalam kariernya.
Terlepas dari berbagai spekulasi yang berkembang, momen Ronaldo yang di duga mengucapkan “bismillah” memperlihatkan bagaimana lingkungan sosial dan budaya dapat memengaruhi kebiasaan seseorang. Fenomena ini sekaligus menunjukkan bahwa dunia olahraga tidak hanya menjadi ajang kompetisi. Tetapi juga ruang pertemuan berbagai budaya yang saling memberi pengaruh dalam kehidupan para atlet profesional.