Ruben Amorim – kembali menjadi sorotan setelah memulai perjalanan baru sebagai pelatih AC Milan. Meski baru menjalani periode awal bersama klub Italia tersebut, kritik terhadap pelatih asal Portugal itu sudah muncul. Bahkan, ada prediksi bahwa masa kerjanya di Milan tidak akan berlangsung lama.
Alex Crook, koresponden sepak bola talkSPORT yang juga dikenal sebagai pendukung Manchester United, menjadi salah satu pihak yang melontarkan kritik. Penilaiannya tidak terlepas dari rekam jejak Amorim ketika menangani Manchester United.
Crook meragukan kemampuan Amorim untuk membawa Milan mencapai target besar. Menurutnya, sejumlah persoalan yang pernah muncul di Manchester masih terlihat dalam pendekatan sang pelatih.
Amorim sendiri kehilangan pekerjaannya di Manchester United pada Januari 2026. Ia meninggalkan Old Trafford setelah sekitar 14 bulan menangani klub tersebut.
Beberapa bulan kemudian, Amorim mendapatkan kesempatan untuk kembali berhadapan dengan mantan timnya. Pertemuan terjadi ketika Milan melawan MU dalam pertandingan pramusim di Wroclaw, Polandia.
Milan berhasil memenangi pertandingan tersebut dengan skor 4-2. Kemenangan itu sekaligus menjadi hasil positif pertama Rossoneri selama rangkaian pramusim setelah sebelumnya kesulitan meraih kemenangan.
Rekam Jejak Amorim di Manchester United Jadi Sorotan
Manchester United mengeluarkan sekitar 9,2 juta pound sterling untuk membawa Amorim dari Sporting Lisbon pada November 2024. Kedatangannya saat itu membawa harapan besar karena reputasinya yang meningkat bersama klub Portugal tersebut.
Namun, Amorim kesulitan menghasilkan performa konsisten selama berada di Inggris. Dari 63 pertandingan di berbagai kompetisi, ia hanya membukukan 24 kemenangan. Persentase kemenangannya berada di kisaran 38,1 persen.
Catatan itu menjadi salah satu alasan Crook mempertanyakan kualitas Amorim. Apalagi, MU juga mengalami periode sulit selama berada di bawah arahannya.
Pada musim pertamanya, Manchester United hanya mampu menyelesaikan Premier League di peringkat ke-16. Posisi tersebut menjadi salah satu titik terendah klub sejak kompetisi menggunakan format Premier League.
Kesempatan memperoleh trofi melalui Liga Europa juga berakhir dengan kekecewaan. Manchester United harus mengakui keunggulan Tottenham Hotspur dalam pertandingan final.
Memasuki musim berikutnya, hasil yang didapat belum cukup untuk mempertahankan posisi Amorim. MU berada di urutan ketujuh ketika klub memutuskan mengakhiri kerja sama dengannya pada Januari 2026.
Michael Carrick kemudian mengambil alih kursi pelatih. Performa Manchester United meningkat dan mereka akhirnya mampu menyelesaikan musim di posisi ketiga.
Sistem Tiga Bek Kembali Dipertanyakan
Salah satu aspek yang paling disorot Crook adalah pendekatan taktik Amorim. Pelatih berusia 41 tahun tersebut dikenal cukup konsisten menggunakan sistem dengan tiga pemain di lini pertahanan.
Crook menilai Amorim seharusnya melakukan evaluasi setelah mengalami kesulitan selama berada di Manchester. Namun, pola serupa kembali terlihat ketika ia mulai menangani AC Milan.
Perhatian Crook tertuju pada pertandingan persahabatan Milan menghadapi Chelsea di Jakarta. Dalam pertandingan tersebut, Amorim kembali menggunakan tiga bek.
Crook kemudian melontarkan sindiran bahwa pendekatan Amorim tampaknya tidak banyak berubah. Ia melihat keputusan tersebut sebagai tanda bahwa sang pelatih masih mempertahankan filosofi yang sebelumnya menuai kritik di Manchester.
Bagi Crook, fleksibilitas menjadi persoalan penting. Ia menilai seorang pelatih perlu mampu menyesuaikan sistem dengan situasi pertandingan dan karakter pemain yang tersedia.

Pelatih Manchester United asal Portugal, Ruben Amorim, bereaksi di akhir pertandingan Liga Inggris antara Manchester United dan Wolverhampton Wanderers di Old Trafford, Manchester, barat laut Inggris, Rabu (31-12-2025) dini hari WIB.
Pernyataan Amorim Setelah Pertandingan Ikut Dikritik
Bukan hanya persoalan taktik, komentar Amorim juga mendapat perhatian. Crook menyoroti penggunaan istilah “menderita” oleh pelatih Milan tersebut ketika membicarakan tantangan yang harus di hadapi timnya.
Istilah serupa pernah di gunakan Amorim pada periode awalnya bersama Manchester United. Saat itu, ia memberikan gambaran bahwa pendukung harus bersiap menghadapi proses sulit sebelum tim menemukan performa terbaik.
Crook menghubungkan pernyataan tersebut dengan berbagai hasil mengecewakan selama era Amorim di Old Trafford. Ia menyinggung kegagalan MU di Piala Liga serta kekalahan pada pertandingan final Liga Europa.
Berdasarkan pengalaman tersebut, Crook kemudian memberikan prediksi keras. Ia meragukan Amorim mampu bertahan selama enam bulan bersama AC Milan.
Meski demikian, prediksi itu masih berupa pendapat pribadi. Amorim masih berada pada tahap awal pekerjaannya bersama Rossoneri dan memiliki kesempatan membuktikan kualitasnya melalui pertandingan kompetitif.
Perdebatan Mengenai Performa Amorim di MU
Pandangan Crook tidak sepenuhnya mendapat persetujuan dari rekannya di talkSPORT, Sam Matterface. Ia mencoba melihat periode Amorim dari sudut pandang berbeda.
Matterface menyoroti jumlah poin yang di kumpulkan Manchester United pada musim sebelumnya. Dari total 71 poin, sekitar 30 poin diperoleh ketika Amorim masih memimpin tim.
Namun, Crook menilai statistik tersebut tidak cukup untuk memberikan penilaian positif. Menurutnya, MU sebenarnya memiliki peluang memperoleh hasil yang lebih baik dengan kualitas pemain yang tersedia.
Crook bahkan menempatkan Amorim sebagai salah satu pelatih dengan performa terburuk di Manchester United sejak era Sir Alex Ferguson berakhir pada 2013.
Salah satu pertandingan yang menjadi contoh adalah kekalahan 0-1 dari Everton pada November. Dalam pertandingan tersebut, Everton harus bermain dengan sepuluh pemain.
Crook mempertanyakan keputusan Amorim yang tetap mempertahankan sistem permainannya meski situasi pertandingan berubah. Ia juga menyoroti penggunaan Mason Mount sebagai wing-back.
Menurut Crook, keputusan tersebut menunjukkan kurangnya fleksibilitas taktik ketika Manchester United membutuhkan perubahan untuk mengejar hasil.
Michael Carrick Jadi Pembanding
Pembahasan kemudian bergeser kepada Michael Carrick. Matterface menilai Carrick memahami tuntutan besar yang selalu menyertai pekerjaan sebagai pelatih Manchester United.
Carrick di nilai mampu menyadari bahwa MU mungkin belum berada dalam kondisi ideal untuk langsung bersaing memperebutkan gelar liga. Karena itu, peningkatan performa secara bertahap menjadi salah satu hal penting.
Pendekatan tersebut sekaligus memberikan tekanan tersendiri kepada Carrick. Setelah membawa MU finis di posisi ketiga, ia harus mempertahankan perkembangan tim dan berusaha mencapai hasil lebih baik.
Crook kemudian menggunakan situasi itu sebagai pembanding dengan masa kepemimpinan Amorim. Ia kembali menyindir bagaimana pelatih Portugal tersebut menjalani pekerjaannya selama berada di Old Trafford.
Kini, Amorim memiliki kesempatan membuka lembaran baru bersama AC Milan. Kemenangan 4-2 atas Manchester United memberikan hasil positif dalam persiapan pramusim.
Namun, perjalanan sebenarnya baru akan terlihat ketika pertandingan kompetitif di mulai. Performa Milan, kemampuan Amorim menyesuaikan taktik, serta konsistensi hasil akan menentukan apakah kritik dari Inggris terbukti atau justru menjadi motivasi bagi sang pelatih untuk membangun reputasinya kembali di Italia.