Timnas Inggris – berhasil mengamankan tempat di babak 32 besar Piala Dunia 2026 setelah tampil sebagai juara Grup L. Meski sukses memimpin klasemen grup, performa The Three Lions sepanjang fase penyisihan masih menuai berbagai sorotan, terutama terkait efektivitas permainan di lini depan.

Legenda sepak bola Inggris, Paul Scholes, menjadi salah satu sosok yang memberikan kritik sekaligus masukan kepada pelatih Thomas Tuchel. Mantan gelandang Manchester United itu menilai Inggris perlu melakukan perubahan komposisi pemain ketika menghadapi RD Kongo di fase gugur.

Menurut Scholes, penggunaan dua gelandang bertahan tidak lagi menjadi kebutuhan menghadapi lawan yang secara kualitas di nilai berada di bawah Inggris. Ia bahkan menyarankan agar Declan Rice di cadangkan demi memberi ruang bagi permainan yang lebih ofensif.

Inggris Lolos Sebagai Juara Grup L

Perjalanan Inggris di fase grup berakhir dengan hasil yang cukup memuaskan dari sisi perolehan poin. The Three Lions mengoleksi tujuh angka dari tiga pertandingan dan memastikan diri finis di posisi pertama Grup L.

Kemenangan pertama di raih saat mengalahkan Kroasia dengan skor 4-2. Setelah itu Inggris hanya mampu bermain imbang tanpa gol melawan Ghana dalam pertandingan yang berlangsung cukup ketat.

Pada laga terakhir fase grup, Inggris kembali meraih kemenangan usai menundukkan Panama dengan skor 2-0. Tambahan tiga poin tersebut memastikan skuad asuhan Thomas Tuchel melangkah ke babak 32 besar sebagai pemuncak klasemen.

Selanjutnya, Inggris di jadwalkan menghadapi RD Kongo yang berhasil lolos sebagai salah satu wakil dari grup lain. Pertandingan tersebut menjadi ujian berikutnya bagi ambisi Inggris untuk melangkah lebih jauh di Piala Dunia 2026.

Produktivitas Serangan Masih Menjadi Sorotan

Walaupun mampu menyelesaikan fase grup tanpa kekalahan, permainan Inggris belum sepenuhnya memuaskan banyak pihak. Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah kurang tajamnya lini serang dalam membongkar pertahanan lawan.

Saat menghadapi Ghana, Inggris tampil dominan dalam penguasaan bola dan menciptakan sejumlah peluang. Namun, rapatnya organisasi pertahanan lawan membuat mereka gagal mencetak gol hingga pertandingan berakhir imbang 0-0.

Situasi serupa kembali terlihat ketika menghadapi Panama. Inggris memang akhirnya meraih kemenangan, tetapi dua gol yang tercipta baru lahir pada pertengahan babak kedua setelah mengalami kesulitan menembus lini pertahanan lawan sepanjang pertandingan.

Kondisi tersebut memunculkan anggapan bahwa pendekatan taktik Thomas Tuchel masih terlalu berhati-hati, terutama karena selalu menurunkan dua gelandang bertahan sejak awal pertandingan.

Paul Scholes memberikan saran kepada Thomas Tuchel agar mencadangkan Declan Rice saat Inggris menghadapi RD Kongo di babak 32 besar Piala Dunia 2026.

Inggris vs Ghana

Paul Scholes Minta Thomas Tuchel Bermain Lebih Agresif

Menanggapi performa Inggris, Paul Scholes menyampaikan pandangannya mengenai perubahan strategi yang sebaiknya di terapkan pada babak gugur.

Selama fase grup, Thomas Tuchel konsisten menggunakan skema double pivot dengan memasang Declan Rice dan Elliot Anderson sebagai jangkar lini tengah. Menurut Scholes, pendekatan tersebut justru membatasi kreativitas tim ketika menghadapi lawan yang cenderung bertahan.

Scholes berpendapat Inggris tidak memerlukan dua pemain bertipe defensif saat melawan RD Kongo. Ia menilai satu gelandang bertahan sudah cukup untuk menjaga keseimbangan permainan, sementara satu posisi lainnya dapat di manfaatkan untuk menambah kekuatan menyerang.

Dengan perubahan tersebut, Inggris di yakini akan lebih leluasa membangun serangan dan menciptakan peluang sejak awal pertandingan.

Elliot Anderson Dinilai Lebih Cocok Mengisi Peran Gelandang Bertahan

Dalam pandangan Scholes, Elliot Anderson merupakan pilihan yang lebih tepat apabila Inggris hanya memainkan satu gelandang bertahan.

Ia menilai Anderson memiliki kemampuan distribusi bola yang lebih progresif sehingga dapat membantu transisi dari lini belakang menuju lini depan secara lebih cepat. Selain menjaga keseimbangan tim, Anderson di nilai berani melepaskan umpan vertikal yang mampu membuka ruang bagi para penyerang.

Sebaliknya, Scholes menganggap Declan Rice dapat di istirahatkan pada laga melawan RD Kongo tanpa mengurangi kekuatan tim secara signifikan.

Menurutnya, menghadapi lawan seperti RD Kongo menjadi kesempatan bagi Inggris untuk tampil lebih menyerang dengan menurunkan sebanyak mungkin pemain berkarakter ofensif sejak menit pertama.

Pendapat Scholes tersebut menambah perdebatan mengenai strategi terbaik yang seharusnya di terapkan Thomas Tuchel pada fase gugur. Kini keputusan sepenuhnya berada di tangan sang pelatih apakah akan tetap mempertahankan pendekatan yang sama atau melakukan perubahan demi meningkatkan daya gedor tim.

Pertandingan kontra RD Kongo pun di prediksi menjadi momen penting untuk membuktikan apakah Inggris mampu meningkatkan kualitas permainan sekaligus menjawab kritik yang muncul setelah fase grup berakhir.